Hidup ini penuh dengan “saling berbalas budi”. Kalau kamu merasa terbantu oleh seseorang, secara etisnya kamu merasa perlu membantu dia juga. Begitu pula sebaliknya saat orang lain merasa terbantu olehmu, di kesempatan lain ia merasa harus membantu dirimu. Jika siklus itu putus, ada saja drama yang akan timbul, biasanya.

Namun penelitian yang dipublikasi dalam Proceedings of The National Academy of Sciences menemukan bahwa kalau kita mengharapkan perbuatan baik kita ada balasannya, kita gak bisa memintanya dengan segera. Di samping itu ternyata balas budi juga tidak bisa ditunda terlalu lama karena dapat memasuki masa “kedaluwarsa”. Kok bisa? Baca penjelasan selengkapnya di sini ya!

1. Penelitian utamanya justru dilakukan di tempat di mana banyak kebaikan diberikan, yaitu rumah sakit

Ternyata Secara Psikologis, Membalas Budi Itu Ada Masa Kedaluwarsanyaunsplash.com/Luis Melendez

Penelitian dilakukan pada sebuah rumah sakit kampus, dengan menggunakan data permohonan donasi sebanyak lebih dari 18.000 buah. Pihak rumah sakit telah memberikan pelayanan yang terbaik, baik secara fasilitas maupun pelayanan tiap personelnya. Namun perbedaan respon terjadi seiring semakin lama donasi itu diminta. Semakin segera permohonan donasi itu diajukan setelah selesai perawatan, semakin positif responnya. Sebaliknya, semakin lama, justru semakin negatif responnya.

2. Rasa tidak enak lah yang membuat seseorang terdorong untuk segera membalas budi, perasaan ini bahkan bisa membuat mereka tidak tenang

Ternyata Secara Psikologis, Membalas Budi Itu Ada Masa Kedaluwarsanyaunsplash.com/Elaine Casap

Jika kamu meminta bantuan kepada mereka yang telah kamu bantu, dalam hati mereka justru akan merasa berterima kasih. Rasa terima kasih mereka muncul dari perasaan lega dari kebingungan untuk membalas budi padamu. Dengan kamu meminta bantuan, mereka akan terasa bebas dari tanggung jawab lagi, tidak ada perasaan tidak enak lagi. Karena semua telah dianggap impas.

Baca juga: Kebiasaan Ini Bisa Merusak Otakmu tapi Mengobatinya Gampang

3. Kalau tindakan baikmu (dalam hati) susah untuk mengikhlaskannya tanpa pamrih, meminta balas budi kembali itu manusiawi kok

Ternyata Secara Psikologis, Membalas Budi Itu Ada Masa Kedaluwarsanyaunsplash.com/Jeremy Yap

Tidak perlu merasa tidak enak atau sungkan, karena justru di saat-saat pertama orang lain itu merasa terbantu olehmu, justru mereka yang dihantui perasaan tidak enak karena ingin segera membalas kebaikanmu. Kalau memang kamu berniat murni mengikhlaskan tindakanmu tanpa pamir, segera move on dan jangan terpikir respon apapun dari orang tersebut. Kalau respon orang tersebut menyinggungmu, meminta balas budi itu tidak apa-apa.

4. Demi tindakan baik yang bisa membuahkan tindakan baik lainnya, jangan menunda permintaan tolongmu pada seseorang

Ternyata Secara Psikologis, Membalas Budi Itu Ada Masa Kedaluwarsanyaunsplash.com/Ben White

Sebagai orang yang berhutang budi, membalas terlalu lama dari perbuatan baik orang lain akan mengurangi kesan balas budinya, karena bisa jadi ia telah mengikhlaskannya. Malah akan menimbulkan perasaan tidak enak yang baru padanya. Sebagai orang yang merasa dihutang budi, segeralah meminta bantuan yang diperlukan. Hal ini agar orang tersebut tidak merasa kamu menghubunginya hanya ketika ada butuhnya, karena kamu meminta balasan ketika rasa tidak enak darinya belum “kedaluwarsa”.

Ternyata Secara Psikologis, Membalas Budi Itu Ada Masa Kedaluwarsanyaunsplash.com/NeONBRAND

Jadi ketika kamu membantu temanmu di akhir pekan yang seharusnya kamu memiliki rencana kegiatan lain, kamu tidak perlu merasa gak enak dalam meminta bantuan darinya juga minggu depan jika memang membutuhkannya. Kalau terlalu lama kamu baru menyatakan membutuhkannya, justru kamu yang akan terasa seperti sosok yang “saat ada butuhnya saja”. Jangan khawatir, kebaikan itu siklus dan memang selaku makhluk sosial, sudah seharusnya kita saling membantu satu sama lain.

Baca juga: Setelah Terbiasa Begadang, Melakukan Sebaliknya Justru Membahayakan